Rabu, 02 September 2009

Pangan Alternatif


Menteri Kehutanan MS Kaban mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus mengembangkan bahan pangan alternatif, masyarakat dapat menjadikan kawasan hutan rakyat dan wilayah penyangga hutan lindung untuk pengembangan tanaman pangan alternatif itu.

"Banyak bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan, antara lain singkong, sukun, jagung, dan sagu yang dapat dijadikan makanan pokok pengganti beras," kata Kaban seusai menjadi pembicara dalam rapat koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Yogyakarta, Kamis.

Ia mengatakan, sumber daya kawasan hutan dapat dimanfaatkan untuk budidaya tahanan pangan, karena wilayah hutan dan kawasan penopang di sekitar hutan masih potensial dijadikan pusat budidaya tanaman pangan.

"Pulau Jawa merupakan wilayah yang paling intensif dalam mengupayakan pengembangan tanaman pangan di sekitar kawasan hutan, terutama hutan rakyat," katanya.

Menurutnya, penanaman pohon sukun sebagai tanaman yang menghasilkan bahan pangan alternatif mulai dikembangkan di pulau Jawa.

Departemen kehutanan menanam 24 juta pohon sukun di seluruh Indonesia, 60 persen pengembangan tanaman tersebut dilakukan di Pulau Jawa.

"Sukun menjadi bahan pangan alternatif penganti beras, kami mengembangkannya sejak tiga tahun lalu," katanya.

Kaban mengatakan, pengembangan tanaman singkong, jagung, sagu, ketela, dan umbi-umbian sebagai tanaman alternatif pengganti beras terus dikembangkan di seluruh Indonesia.(Sumber:Antara/FINROLL News).

"Upaya tersebut dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi beras sebagai makanan pokok," katanya.

Pengembangan tanaman alternatif tersebut, menurutnya, sebagian besar dilakukan di areal sekitar hutan rakyat, yaitu areal lahan penduduk yang menopang keberadaan hutan lindung dan hutan rakyat.

Sumber daya hutan yang menurutnya bisa menjadi bahan pangan alternatif lainnya adalah sagu.

Menurutnya, sagu sebagai bahan pangan hasil hutan mampu menjadi cadangan pangan pada masa mendatang.

"Sagu merupakan cadangan pangan terbesar yang berada di kawasan hutan," katanya.

Daerah kawasan hutan penghasil sagu harus tetap dilestarikan, katanya, karena dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di sekitar kawasan hutan hingga 30 tahun mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar