Kamis, 28 Mei 2009

GETAH JELUTUNG

Jelutung merupakan jenis kayu multiguna, selain menghasilkan kayu juga menghasilkan getah. Getah dan kayu jelutung merupakan komoditi perdagangan dalam dan luar negeri/ekspor. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan baku pensil slite dan getahnya sebagai bahan pengawet permen karet, kabel listrik dibawah tanah, kondom dan campuran bahan baku ban mobil. Pohon jelutung dapat menghasilkan getah yang dikelompokkan sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) . Jelutung pada umur 8 tahun atau setelah batang berdiameter paling kecil 20 cm sudah bisa disadap (Lihat Gambar 2). Getah jelutung berwarna putih yang terdiri dari 20 % kancuk dan 80 % damar. Perkiraan produksi getah jelutung berkisar antara 0,1 kg sampai dengan 0,6 kg per batang.

Potensi kayu jelutung semakin langka, volume rata-rata 2,46 m3/ha pada tahun 1987 (Badan Intag, 1987. Menurunnya potensi volume rata-rata jelutung disebabkan antara lain tidak dilakukan usaha budidaya secara intensif, eksploitasi sumber daya hutan yang cenderung berlebihan dan kurang memperhatikan prinsip dalam menjaga kelestarian serta kesinambungan ekosistem sumber daya hutan, kebakaran hutan di musim kemarau, konversi kawasan hutan ke sawit dan karet.

Usaha Budidaya Jelutung

Masalah ekonomi dewasa ini adalah kemampuan supply kayu dari hutan alam semakin berkurang, maka orientasi penyelesaian ekonominya adalah membangun sumber supply baru dari hutan tanaman. Pembangunan hutan tanaman untuk jenis jelutung dapat dilakukan pada hutan tanaman industri atau hutan tanaman rakyat. Usaha budidaya ini belum ada penghasilan seperti getah atau kayu karena tanaman ini baru berumur 3-4 tah un (Gambar 1).

Produksi Getah Jelutung

Daerah penghasil getah jelutung di daerah Kalimantan Tengah adalah Pangkalan Bun, Palangkaraya dan Sampit. Selama empat tahun (2003 s/d 2006) daerah terbesar penghasil getah jelutung adalah Pangkalan Bun (Lihat Grafik di bawah ini). Produksi dari ketiga daerah ini dijual ke pedagang besar /eksportir di Sampit.

Tabel 6. Produksi Getah Jelutung di daerah Propinsi Kalimantan Tengah

Daerah Kab.

Tahun (Kg)

2003

2004

2005

2006

Rata2

Kab. Pangkalan Bun

423.242

493.012

421.770

564.923


Palangka Raya

428.739

454.214

180.530

67.840


Sampit

185.933

115.440

30.081

60.993


Jumlah

1.037.914

1.062.666

632.381

693.756


Sumber: Pedagang besar/Eksportir Getah Jelutung, Sampit 2007.

Ekspor Getah Jelutung

Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia di ekspor ke luar negeri seperti ke Jepang, Singapura dan Hongkong dalam bentuk bongkah. Berdasarkan data dari sebuah perusahaan eksportir getah jelutung di sampit, rata-rata per tahun mampu mengekspor162,29 ton ke Jepang. Nilai rata-rata per tonnya berkisar antara USD 4.592 – 4.966. Pada table 7 di bawah ini menunjukkan jumlah ekspor getah jelutung ke Negara Jepang.

Tabel 7. Realisasi Ekspor Getah Jelutung di Kalimantan Tengah

Tahun

Volume

(ton)

Nilai

(USD)

Nilai Rata-rata/ton (USD)

Harga rata/kg ditingkat buyer LN (USD)

Tujuan Ekspor

2000

96

476.800,00

4.966,70

0,50

Jepang

2001

128

587.840,00

4.592,50

0,50

Jepang

2002

176

792.000,00

4.500,00

0,45

Jepang

2003

192

902.400,00

4.700,00

4,70

Jepang

2004

192

902.400,00

4.700,00

4,70

Jepang

2005

176

827.200,00

4.700,00

4,70

Jepang

2006

176

827.200,00

4.700,00

4,70

Jepang

Jumlah

1136





Rata-rata

162,29





Sumber : Produsen dan Eksportir Getah Jelutung, Sampit, 2007.

Nialai Ekonomi Jelutung

  1. Getah Jelutung

Dari perkiraan produksi getah jelutung 0,1 sampai dengan -0,6 kg per batang tiap satu kali sadap. Dalam satu tahun rata-rata pebnyadapan dilakukan 40 kali, dengan asumsi harga getah Rp. 3000 per kilogram. Jumlah pohon dalam 1 hetar 200 pohon, maka nilai ekonomi getah jelutung setiap tahunnya berkisar antara Rp. 2.400.000,- sampai Rp. 13. 440.000,-.

  1. Kayu Jelutung

Riap diameter pohon jelutung adalah 1,58 cm per tahun, maka pada umur ± 25 tahun pohon jelutung sudah dapat dipanen untuk keperluan bahan baku pensil slate atau kayu lapis dengan diameter 35 cm lebih.

Jika rata-rata pohon bebas cabang mencapai 15 cm meter, maka volume tiap pohon rata-rata 2,94 m3. Dengan kerapatan pohon mencapai 200 pohon/hektar, maka volume rata-rata per hektarnya ± 588 m3. Dengan asumsi harga kayu bulat jelutung di tingkat masyarakat Rp. 200.000,- per meter kubik, maka dapat diperoleh nilai ekonomi dari jenis kayu jelutung Rp. 117.600.000,-

Keuntungan Usaha Budidaya Jelutung

Usaha budidaya jelutung selain dapat dilakukan dalam kawasan hutan tanaman industri/HTI juga dapat dilaksanakan di hutan rakyat. Dalam analisis usaha budidaya jelutung pada hutan rakyat, luas tanah yang dipergunakan 1 hektar. Biaya tanah dihitung dalam bentuk nilai sewa tanah.

Pendapatan

Jelutung pada umur 8 tahun dapat disadap. Hasil sadapan rata-rata per pohon pada umur 8 tahun s/d 12 tahun 3 kilogram per bulan per pohon. Pada umur 13 tahun s/d 30 tahun menghasilkan getah 5 kilogram per pohon per bulan. Selanjutnya produksi getah akan menurun, seiring dengan penambahan umur pohon. Pada umur 35 tahun setelah berdiameter 40 cm, tinggi pohon 15 meter, jelutung sebaiknya ditebang untuk diremajakan kembali. Setiap batang akan menghasilkan kayu 1,88 m3. Usaha budidaya jelutung selain dapat dilakukan dalam kawasan hutan tanaman industri/HTI juga dapat dilaksanakan di hutan rakyat.*Sumber:MKI-2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar