Senin, 01 Juni 2009

TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) R. SOERYO (JAWA TIMUR)

A. KEADAAN FISIK KAWASAN

Dasar hukum, letak dan luas

Kawasan Hutan Arjuno Lalijiwo ditetapkan sebagai TAHURA R. Soeryo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 1128/Kpts-II/1992 tanggal 19 September 1992 dengan luas 25.000 Ha. Sedangkan pembangunannya ditetapkan berdasarkan keputusan Presiden No. 29 Tahun 1992 tanggal 20 Juni 1992. Peresmian TAHURA R. Soeryo dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan Pekan Penghijauan Nasional di Propinsi Sulawesi Utara pada tanggal 19 Desember 1992.

TAHURA R. Soeryo secara administrasi pemerintahan terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Batu, Kabupaten Derah Tingkat II Malang, Propinsi Jawa Timur, sedangkan secara geografis TAHURA R. Soeryo terletak pada 11232’00" Bujur Timur dan 7044'30" Lintang Selatan. Pengelolaan kawasan berada pada Resort KSDA Lalijiwo Barat, Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jatim I, Balai KSDA IV, Kanwil Departemen Kehutanan Propinsi Jawa Timur.

Topografi

TAHURA R. Soeryo secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut.

Iklim

Menurut klasifikasi iklim Schmid dan Ferguson TAHURA R. Soeryo termasuk tipe iklim C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500-4.500 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 5°C-10°C.

B. POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora

Keadaaan flora dan kawasan TAHURA R. Soeryo didominasi tumbuhan jenis : Cemara (Casuarina junghuniana), Saren (Toenasureni), Pasang (Quercus lincata), Kemelandingan gunung (Mycura javabica) dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti Padi-padian (Sarghum vitidumvakl).

Fauna

Fauna yang terdapat di dalam kawasan TAHURA R. Soeryo antara lain adalah Rusa (Cerous timorensis), Kijang (Muntiacus muncak), Babi hutan (Sus Srofa), Kera abu-abu (Macaca fascicuis), Budeng (Presbytis cristata) dan berbagai jenis burung seperti Tekukur dan Kerenda.

C. POTENSI WISATA ALAM

Daya tarik obyek

TAHURA R. Soeryo memiliki potensi wisata yang cukup bervariasi selain flora dan fauna serta pemandangan alam yang indah pada kawasan tersebut terdapat juga tempat pemandian sumber air panas, Arboretum Cangar yaitu tempat koleksi tanaman langka, Arboretum Sumber Brantas, Gua-gua Jepang, Petapaan Abiyoso, Padang Rumput Lalijiwo, Pondok Welirang, Puncak Welirang dan Petapaan Indrokilo.

Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan

Beberapa kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan diantaranya : lintas alam, menikmati pemandangan alam pegunungan, berkemah, mandi air panas dan lain-lain.

Sarana kemudahan dan pelayanan

Beberapa fasilitas yang dapat mendukung kegiatan wisata alam di TAHURA R. Soeryo adalah : jalan masuk, pos jaga, pondok wisata, pendopo, pusat informasi, kantor pengelola, pondok kerja, MCK dan jalan setapak.

Pencapaian ke lokasi

Kawasan TAHURA R. Soeryo dapat dikunjungi dengan mudah dari kota Surabaya, Malang, Pasuruan, Mojokerto dan Jombang dengan route :

  • Malang - Batu - Sumber Brantas Lokasi 38 Km dapat dicapai dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
  • Mojokerto - Pacet - Lokasi 30 Km hanya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi.
  • Surabaya - Pandaan - Priden - Tretes 74 Km dengan kendaraan umum, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pondok Welirang, Padang rumput Lalijiwo terus ke Gunung Welirang selanjutnya turun ke lokasi dengan waktu perjalanan 14 jam.

D. PELUANG USAHA YANG DAPAT DIKEMBANGKAN

Peluang usaha yang dapat dikembangkan TAHURA R. Soeryo antara lain adalah : usaha jasa akomodasi dan konsumsi, usaha jasa pemandu wisata alam dan usaha jasa transportasi.*Sumber: http//www.dephut.go.id.

Tahura Wan Abdul Rahman-Lampung

Tahura Wan Abdul Rahman (luas: 22.249,31 ha) adalah salah satu dari 14 Taman Hutan Raya di Indonesia. Ditetapkan sebagai Tahura Wan Abdul Rahman berdasarkan SK Menhut No. 408/Kpts-II/93 dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi Lampung sesuai UU No. 22 tahun 1999, PP No. 25 Th. 2000, Keputusan Menhut No. 107/Kpts-II/2003 serta Keputusan Gubernur Lampung No. 03 tahun 2003.

Secara administratif Tahura Wan Abdul Rahman berada di Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kedodong, Gedong Tataan dan Padang Cermin Kota Madya Bandar Lampung. Di dalam kawasan terdapat 4 (empat) buah gunung, yaitu: G. Rantai (1.671 m), G. Pesawar (661 m), G. Betung (1.240 m), dan G. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 m).
Memiliki ketinggian 1600 dpl dengan topografi yang bergelombang dan berbukit, sementara dipuncaknya adalah gunung betung, gunung pesawaran, gunung ratai dan gunung tangkit padang ratu, sementara sungai-sungai banyak bermuara disana, seperti sungai Way Semak, Way Padang Ratu dan Way Rati dan wilayah ini terdiri atas vegetasi hutan alam (37,06 %), belukar (25,90 %) alang-alang (3,5 %) dan kebun/ladang (32,76 %), dibagi menjadi dua blok pengelolaan yaitu blok perlindungan dengan luas 11.150 ha dan blok pemanfaatan seluas 11.099 ha.
Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung register 19 Gunung Betung dengan luas 22.249,31 Hektar, tetapi sesuai dengan potensi alam yang dimiliki, maka kawasan tersebut dikembangkan dengan fungsi antara lain sebagai tempat koleksi flora dan fauna alami, jenis asli maupun bukan asli, sebagai tempat untuk penelitian, pariwisata dan rekreasi, berfungsi sebagai perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

Vegetasi hutan di Tahura Wan Abdul Rahman memiliki tipe vegetasi hutan hujan tropis yang didominasi oleh Medang (Litsea firmahoa), Rasamala (Altingia excelsa), Merawan (Hopea mengawan) dan berbagai jenis anggrek, pakis dan rotan. Potensi fauna antara lain: Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Tapir (Tapirus indicus), Kambing hutan (Nemorchaedus sumatrensis), Rusa (Cervus timorensis) dan Beruang madu (Helarector melayanus).

Potensi alam lainnya yang dapat menarik wisatawan adalah beberapa air terjun alami seperti Air terjun Sinar Tiga yang memiliki ketinggian 70 m dengan lebar 6 – 10 m, air terjun Gunung Minggu yang digunakan oleh pengunjung sebagai shower alam, air terjun Talang Rabun memiliki tinggi 30 m, air terjun Tanah Longsor 35 m, air terjun Penyairan 35 m, air terjun Bidadari 20 m dan air terjun Talang Mulya 30 m. Masih banyak air terjun di tahura WAR ini seperti air terjun Gunung Tanjung, Batu Lapis Mata Dewa, Pelangi, Batu Perahu, Kupu Jambu, Tawon, Way Awi, Way Ngeluh dan air terjun Sungai Langka.
Sekitar 80 % luas hutan Tahura berada di Kabupaten Pesawaran, 15 km dari kota Bandarlampung. Terdapat 47 titik pemukiman di Tahura WAR. Sensus 2002 menunjukkan 23.489 KK tinggal di dalam hutan. Dinas Kehutanan telah membuat Master Plan pengembangan Tahura WAR, tinggal menunggu persetujuan dari Departemen Kehutanan.Obyek wisata alam yang memiliki daya tarik wisatawan adalah 5 (lima) buah air terjun.*Sumber:MKI-2008

Minggu, 31 Mei 2009

PEMANENAN LEBAH HUTAN (Apis dorsata binghami)


Oleh: Rini Purwanti*)

Pendahuluan

Apis dorsata yang biasa disebut lebah hutan sampai saat ini diketahui mempunyai tiga sub spesies yakni Apis dorsata dorsata, Apis dorsata binghami, dan Apis dorsata breviligula. Dari ketiga sub spesies ini hanya dua yang terdapat di Indonesia yakni Apis dorsata dorsata yang terletak di wilayah Indonesia Bagian Barat mulai Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sekitarnya dan Timor Timur serta Apis dorsata binghami yang hanya terdapat di Sulawesi. Jenis lebah ini membuat sarang di tempat terbuka dimana sinar matahari dapat masuk atau setidak-tidaknya masih ada celah terbuka. Satu pohon biasanya dihuni oleh puluhan sarang, kecuali sub spesies yang berada di Sulawesi (Apis dorsata binghami) dan Filipina (Apis dorsata breviligula). Di Timor Timur pernah dilaporkan ada satu pohon yang dihuni oleh 126 sarang Apis dorsata dorsata (Departemen Kehutanan, 1998).

Apis dorsata binghami tidak seperti A. mellifera maupun A. cerana atau A. nigrocincta, yang merupakan jenis lebah madu yang dapat dibudidayakan di dalam kotak-kotak pemeliharaan buatan manusia. Apis dorsata binghami umumnya ditemukan di dalam atau sekitar kawasan hutan atau di kampung-kampung yang berbatasan dengan hutan. Sarangnya menggantung pada bagian bawah cabang pohon besar dengan ketinggian ± 20 meter. Dalam satu pohon biasanya hanya dihuni oleh 1 – 2 sarang lebah, sementara untuk Apis dorsata dorsata, satu pohon bisa dihuni sampai puluhan sarang. Di Sulawesi, sarang lebah hutan umumnya ditemukan pada pohon mangga (Mangifera indica L.), sukun (Artocarpus communis Forst.), durian (Durio zibethinus Murr.), kapuk randu (Ceiba pentandra Gaertn.) dan aren (Arenga pinnata) (Soenarno dkk, 2002).

Pemanenan Madu Lebah Hutan

Di Sulawesi masih banyak ditemukan sarang lebah hutan, tetapi kegiatan pemanenannya selama ini masih bersifat tradisional yaitu melakukan pengasapan atau pembakaran untuk mengusir lebah lalu memotong habis seluruh sarang lebah tanpa menyisakan anakannya. Hal ini bisa mengakibatkan kepunahan dari lebah hutan ini karena anakan lebah yang seharusnya masih bisa berkembang, ikut juga diambil. Pengasapan juga bisa mengakibatkan ratu lebah mati atau ratu tidak dapat berkumpul dengan koloninya sehingga mengakibatkan kepunahan dari koloni tersebut. Cara panen semacam ini juga mengorbankan seluruh anakan lebah, sehingga menghambat proses regenerasi dan perkembangan populasi koloni (Setiawan, 2004). Kegiatan pemanenan biasanya dilakukan oleh masyarakat pada pagi hari (05.30 – 07.00). Hal ini disebabkan karena pada pagi hari lebah pekerja sudah mulai keluar untuk mencari makan dan belum kembali pada jam-jam tersebut sehingga lebih aman untuk melaksanakan kegiatan pemanenan, sedangkan pada jam 8.00 ke atas lebah pekerja sudah mulai pulang dari mencari makan dan biasanya lebih ganas.

Kegiatan pemanenan madu dilakukan dengan bagi hasil antara pemilik pohon inang dengan pawang lebah. Hasil perolehan madu dibagi 2 bagian yang sama. Pemanenan dilakukan dengan memanjat pohon oleh pawang lebah yang umumnya merupakan satu kelompok kecil terdiri sekurang-kurangnya dua orang. Dalam kelompok kecil tersebut terjadi pembagian tugas antara lain pemanjatan, pelayanan dibawah selama pemanjatan dan pengangkutan hasil keluar hutan. Untuk memudahkan pemanjatan pohon, pawang lebah menggunakan tangga. Peralatan yang dipergunakan dalam pemanenan berupa pisau untuk mengiris sarang, ember bertali, dan pengasap (sulo) yang terbuat dari sabut kelapa yang dibalut dengan daun kelapa basah di bagian luarnya untuk menghasilkan asap yang banyak. Agar sang pawang tidak disengat lebah, dia menggunakan celana panjang, baju tebal (jaket), topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak tersengat lebah.

Bagaimana Agar Lebah Kembali Lagi Ke Sarang?

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang pawang lebah, mereka menyatakan bahwa terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh pawang lebah agar lebah yang telah diasapi dan diusir tadi mau kembali lagi ke pohon inangnya dan membangun kembali sarangnya, yaitu :

1. Mengolesi batang tempat sarang lebah dengan gula merah, dengan alasan untuk mengganti madu yang telah diambil tadi karena jika madu telah diambil semua maka tidak ada lagi makanan lebah di atas pohon itu. Oleh sebab itu, dengan mengoleskan gula merah di dahannya tadi diharapkan bisa sedikit menggantikan makanan cadangan lebah.

2. Membaca doa dan melakukan ritual-ritual dengan tujuan agar lebah tidak marah dan menyengat pawang serta mau kembali lagi ke sarangnya semula. Adapun beberapa gerakan dalam ritual yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Pada saat membaca doa, dia menempelkan bagian bawah telapak tangannya dekat ibu jari. Ini maksudnya untuk minta ijin pada pohon dan dengan maksud agar isi yang didapat.
  • Mengelus-elus pohon selama 3 kali dengan gerakan dielus dari bawah ke atas. Dengan maksud agar lebah tidak terbang ke bawah tapi kembali ke atas, dan juga diharapkan ada peningkatan hasilnya.
  • Mendorong pantat ke atas, maksudnya agar lebah tidak dengan gampang mengeluarkan sengatnya terhadap pawang. Kenapa pantat yang dipegang, karena sumber sengatan asalnya dari arah pantat lebah.
  • Menghadap ke arah asal sarang/posisi sarang berada dan tidak boleh membelakanginya karena bisa mengakibatkan lebah marah.
  • Pada hari jum’at tidak boleh melakukan pemungutan madu, kecuali dalam keadaan terpaksa. Kalaupun harus memanen, maka setelah selesai memanen, maka dia akan melakukan ritual lagi yaitu duduk dibawah pohon sambil membaca mantera. Tujuannya yaitu agar lebah tetap kembali lagi ke tempat asalnya.

Berdasarkan cara-cara yang dilakukan oleh pawang lebah di atas, beberapa lebah memang masih ada yang mau kembali ke sarangnya semula untuk membangun sarangnya kembali, tetapi ada juga yang kembali ke pohon inangnya dan membangun lagi sarangnya tetapi tidak dibekas sarang yang telah dipanen tadi, tetapi pindah ke dahan yang lain. Selain itu, sarang yang dibangun kembali juga ukurannya biasanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan sarang semula.

Bagaimana Panen Lebah yang Seharusnya?

Beberapa pemungut madu telah dapat menerapkan teknis pemanenan madu lebah hutan secara benar sehingga kelestarian lebahnya dapat lebih terjamin yang dikenal dengan teknik sunat (Departemen Kehutanan, 2003). Prinsip dari teknik sunat adalah hanya mengambil/mengiris bagian sarang yang berisi madu saja dan meninggalkan sebanyak-banyaknya bagian sarang yang berisi telur, larva, pupa lebah dan tepung sari. Pada bagian sarang yang berisi madu yang telah diambil, segera dibangun kembali oleh lebah hutan. Selain hal tersebut agar kelestarian lebah hutan dapat lebih terjamin maka perlu dihindari terjadinya pembakaran sarang pada saat pengasapan.

Pemanenan Lebah Madu

Penelitian mengenai teknik panen sunat ini sebetulnya sudah pernah diuji cobakan oleh Purwanti dkk (2006) di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. 12 koloni lebah hutan siap panen diuji coba, 4 koloni dipanen tradisional, 4 koloni dipanen sunat dengan batang bekas sarang dibersihkan, dan 4 koloni dipanen sunat dengan batang bekas sarang tidak dibersihkan. Hasilnya 2 dari 4 koloni yang dipanen tradisional masih kembali, sedangkan dengan sistem sunat baik yang dibersihkan batangnya maupun yang tidak ternyata hanya 1 saja yang kembali. Tetapi hal ini belum bisa dijadikan patokan bahwa sistem sunat tidak efektif untuk diterapkan di Sulawesi mengingat penelitian baru sekali dilakukan selain itu juga karena memang ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh pawang saat melakukan pemanenan seperti menggunakan pengasapan dengan api yang menyala serta terlalu banyaknya anakan yang dipotong saat panen sunat. Oleh sebab itu masih perlu dilakukan uji coba lagi dengan mengambil lokasi yang berbeda serta mengeliminir kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pemanenan.

Penutup

Kegiatan pemanenan lebah hutan ini memegang peranan penting karena dari kegiatan pemanenan inilah yang akan menentukan keberlanjutan dari perkembangan jumlah koloni lebah selanjutnya. Dari teknik pemanenan ini bisa menjadi salah satu cara untuk membudidayakan lebah hutan sehingga kontinuitas dan produktifitas madu lebah hutan dapat meningkat. Oleh sebab itu perlu dilakukan teknik pemanenan lebah yang ramah lingkungan dan tidak mengancam populasi koloni. *Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Makassar.

Kamis, 28 Mei 2009

Potensi Hutan Indonesia


Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati tinggi (megadiversity). Di dalam hutan dan perairan terdapat kekayaan sumber daya alam hayati, yaitu: 515 jenis mamalia (12 % dari jenis mamalia dunia); 511 jenis reptilia (7,3 % dari jenis reptilia dunia); 1531 jenis burung (17 % jenis burung dunia); 270 jenis amphibi; 2827 jenis binatang tak bertulang; dan 38.000 jenis tumbuhan.

Indonesia mempunyai areal sumberdaya hutan sebesar 120, 35 juta ha dengan rincian hutan konservasi 20,5 juta ha, hutan lindung 33,5 juta ha dan hutan produksi 66, 35 juta ha.

Hutan, bukan hanya menyimpan kayu, tetapi juga menyimpan potensi non kayu yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pangan pada lahan hutan. Kegiatan tersebut akan memberikan hasil yang menguntungkan. Baik dari segi ekonomis maupun dari segi ekologis tanpa mengubah fungsi hutannya. Budidaya tanaman pangan dapat dilakukan di bawah tegakan tanaman hutan pada kawasan hutan produksi. Dengan kata lain sumber pangan nasional tidak hanya tergantung kepada lahan pertanian saja, tetapi juga dari lahan hutan

Potensi pangan dari dalam hutan ternyata dapat dihasilkan tidak saja pada awal musim tanam tumpangsari yang dikenal selama ini, yakni dua tahun tetapi dapat selama daur karena ternyata banyak tanaman pangan yang mampu hidup di bawah naungan dengan hasil yang tinggi. Disamping itu tesedia jenis-jenis pohon dan tumbuhan hutan yang mampu menghasilkan aneka ragam pangan berupa buah, daun, tepung dan lain-lain.

Usaha-usaha peningkatan ketahanan pangan nasional telah banyak dilakukan namun masalah kekurangan pangan masih merupakan masalah utama. Ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian kita yaitu: pertama banyaknya lahan yang tidak dimanfaatkan (iddle). Misalnya lahan hutan yang tersebar diseluruh tanah air yang sebenarnya dapat menghasilkan pangan yang bermutu dan bergizi serta biaya dasar yang rendah karena memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan dan tumpang sari. Aspek yang kedua adalah budaya mengkonsumsi pangan berupa gandum dan beras yang terlanjur menjadi makanan pokok disebagian kalangan penduduk.

Masalah ketersediaan air bagi keperluan keluarga dan industri, meningkatnya pencemaran udara, semakin berkurangnya produk oksigen, serta semakin banyaknya produk gas rumah kaca dan lain sebagainya merupakan ancaman bagi penduduk Indonesia yang saat ini mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Hutan apabila ditata dengan baik akan dapat diandalkan untuk mengatasi masalah tersebut.

Hutan mampu menghasilkan persediaan pangan dan air nasional, selain itu juga dapat membantu menghindarkan kebakaran hutan, perambahan, pencurian, perusakan hutan apabila dapat memanfaatkan lahan-lahan tersebut dengan jenis tanaman pangan campuran yang sesuai. Tanaman pangan dibawah tegakan selain menambah kesuburan tanah, juga dapat berfungsi sebagai payung terhadap erosi.

Jenis Tanaman Pangan

Selama ini beras dan gandum dianggap sebagai sumber karbohidrat yang utama, sementara beberapa jenis tanaman pangan lainnya seperti ketela pohon, ganyong, jagung, umbi-umbian hanya dianggap sebagai makanan bergizi rendah.

Beberapa jenis tanaman pangan nasional yang diprioritaskan antara lain: Ketela Pohon (Manihot utilissima POHL), Arairut, garut (Maranta arundinacea LINN), Ganyong (Lembong) (Canna edulis KER), Sukun (Artocarpus communis FORST), Ubi Jalar (Ipomoea batatas POIR), Jagung (Zea mays LINN), Kacang Tanah (Arachis hypogea LINN), Kedelai (Glycine max MERR), Talas (Colocasia esculenta SCHOTT), Ubi Gembili (Dioscorea aculcata LINN), Suweg (Amorphophallus campanulatus BL), Gadung (Dioscorea hispida POIR), Huwi Sawu (Dioscorea alata LINN), Kimpul (Hanthosoma violaceum SCHOT), Kentang (Solanum tuberosum LINN), Kentang Jawa (Klici) (Soleus tuberosum BENTH), Nenas (Ananas comosus MERR), Pisang (Musa paradisiaca LINN), Melinjo (Gnetum gnemon LINN), Nangka (Artocarpus integra MERR), Cempedak ( Artocarpus champeden SPRENG), Alpukat (Persea gratisima GAERTN), Sagu (Metroxylon sp), Rambutan (Nephelium lapnaceum), Durian (Durio zibbethinus), Cantel (Sorgum) (Syricum granum).**