Tampilkan postingan dengan label Cuplikan berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuplikan berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

Keanekaragaman Hayati Indonesia Menyusut


Keanekaragaman hayati Indonesia ditenggarai terus menyusut karena taksonominya tidak pernah dikembangkan untuk mengetahui identifikasi serta menggali manfaatnya. Bahkan keanekaragaman hayati disebut telah lama dilemahkan secara sistematis, terlihat ketika salah satu cabang ilmu biologi, yaitu taksonomi mulai ditiadakan dari satu mata kuliah di perguruan tinggi. hal ini menjadi amat ironis ketika pada tahun 1994 Indonesia menandatangani konvensi penyelamatan keanekaragaman hayati.Menurut PBB, semua program mengenai keanekaragaman hayati pada tingkat global dinilai gagal. Setidaknya ada tiga program dianggap gagal total, dan 14 program dianggap gagal namun memiliki perbaikan. Keberadaan terumbu karang dikhawatirkan akan mengalami penyusutan masif di masa datang. Sekjen PBB Ban Ki Moon menyalahkan berbagai kebijakan pemimpin dunia yang tidak memihak pada lingkungan hidup.(sumber:hasil analisis berbagai media cetak Pusinfo).

Minggu, 20 Desember 2009

Mari Menanam Pohon


Menurut Presiden SBY, Kalau tiap tahun kita menanam minimal 230 juta, 10 tahun kita punya 2,3 milyar pohon. 20 tahun kita punya 4,6 milyar pohon, 30 tahun 6,9 milyar pohon, 40 tahun 9,2 milyar pohon yang menjadi tonggak perbaikan lingkungan di dunia ini. Kita akan memiliki sekitar 9,3 milyar pohon. Andaikata dari jumlah itu yang hidup subur baik ada separuhnya, kita memiliki sekitar 5 milyar pohon. Andaikata pada tahun itu satu pohon, tidak usah mampu menyerap 28 ton, tapi mampu menyerap 10 ton saja, kita dapat menyerap tiap tahun, 50 milyar ton CO2. Sungguh kontribusi yang luarbiasa dari anak bangsa Indonesia kepada negeri dan dunianya!

Itu adalah angka yang pesimis. Angka yang konservatif, apalagi nanti kalo negara dan masyarakat bersama-sama menanam yang lebih banyak lagi, maka akan lebih banyak lagi CO2 yang mampu kita serap. Oleh karena itu, mari kita sukseskan gerakan One Man One Tree.

Kamis, 29 Oktober 2009

10 Persen Spesies Terancam

Hasil sensus yang dilakukan pemerintah Australia menunjukkan dampak perubahan iklim saat ini diperkirakan akan mengancam sekitar populasi 10 persen spesies yang ada di dunia. Spesies yang terancam punah meliputi 29,2 persen jenis amfibi, 20,8 persen mamalia, 12,2 persen jenis burung, 4,8 persen jenis reptil, dan 4,1 persen jenis ikan.Bahkan menurut menteri lingkungan hidup Australia, Peter Garret, sebanyak 87 persen mamalia dan 93 persen reptil yang ada di Australia tidak terdapat di belahan dunia lain. Ini berarti sudah saatnya mencari cara untuk melindungi satwa langka dari ancaman kepunahanb.(dicuplik dari CHIC No. 48-2009.

Jumat, 28 Agustus 2009

PNBP Kehutanan

Total penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)dari sektor kehutanan untuk penggunaan kawasan hutan guna keperluan pertambangan yang sudah diterima mencapai Rp. 65,037 miliar, berasal dari 22 perusahaan pertambangan.Sementara sampai dengan bulan Juli 2009 mencapai Rp. 12,7 miliar.Untuk tahun 2009, target PNBP sebesar Rp. 122 miliar.(sumber:Pusinfo-dephut).

Minggu, 05 Juli 2009

Uni Eropa dan AS pernah Merusak Hutan

Uni Eropa dan AS adalah dua negara yang pernah merusak hutan secara lebih gila dibanding Indonesia. Beberapa spesies flora dan fauna di Eropa dan AS sudah atau nyaris punah. Ketika mereka merusak hutan, belum ada pihak yang memperingatkan mereka. Berdasarkan pengalaman buruk tersebut, sekarang mereka menyadarkan negara lain agar lebih hati-hati dengan hutan. Uni eropa, AS, dan Jepang sudah pernah menikmati perusakan hutan, dan sekarang mereka menikmati energi yang mengotori udara dengan CO2.*sumber:business news;2 juli 2009.

Selasa, 16 Juni 2009

Rahasia Pohon Besar


Satu hektar lahan yang dipenuhi pohon besar :
Menghasilkan 0,6 Ton O2/hr, untuk 1500 org/hr
Menyerap 2,5 Ton CO2/th
Menyimpan 900 m3 air tanah/tahun
Mentransfer air 4000 liter/hari
Meredam kebisingan 25 – 80 %
Meredam angin 75 – 80 %
Menyerap gas emisi mobil (emisi 1 mobil dpt diserap oleh 4 pohon dewasa)

Rabu, 27 Mei 2009

PERTEMUAN NEGARA-NEGARA PEMILIK HUTAN TROPIS (F-11) DI DENPASAR, BALI

Kelompok Negara-negara yang tergabung dalam F-11 (Forest Eleven) melaksanakan pertemuan Technical Expert di Denpasar, Bali pada tanggal 26 – 27 Mei 2009. Pertemuan F-11 dihadiri oleh ± 25 peserta dari 11 negara pemilik hutan tropis yaitu : Brazil, Costa Rica, Gabon, Kongo, Kamerun, Kolombia, Malaysia, Papua New Guinea, Peru, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia. (Kesebelas Negara merupakan pemilik separuh Hutan Tropis Dunia). Pertemuan membahas mengenai organizational matters F-11 yang meliputi bentuk sekretariat, rotasi kepemimpinan, dan pertemuan lanjutan F-11. Selain itu akan dibahas pula program of work F-11 jangka pendek, menengah dan panjang serta proyek konkret yang akan diluncurkan pada pertemuan tingkat menteri.

Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan bentuk proyek konkrit yang menjadi prioritas Indonesia untuk dapat dibahas dalam pertemuan Technical Expert Group F-11 dan akan diluncurkan pada pertemuan tingkat Menteri F-11.

Kelompok sebelas Negara pemilik hutan tropis tersebut lebih dikenal sebagai kelompok Forest Eleven (F-11) dibentuk atas inisiatif Presiden RI ketika mengadakan pertemuan tingkat Kepala Negara pemilik hutan tropis utama pada tanggal 24 September 2007 di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB dan High-Level Event on Climate Change di New York.
Pertemuan yang selanjutnya disebut Special Leaders Meeting of Tropical Rainforest Countries (TRC) dipimpin oleh Presiden RI dan diikuti oleh Presiden Gabon, PM Papua New Guinea, Wapres Colombia, Wakil PM Republic of Congo, serta menteri-menteri dari Brazil, Cameroon, Democratic Republic of Congo, Costa Rica, Malaysia dan Peru (kesebelas negara merupakan pemilik separuh dari hutan tropis dunia). Hal penting yang merupakan hasil pertemuan Special Leaders Meeting of Tropical Rainforest Countries (TRC) wak

tu itu antara lain penanganan isu REDD dalam konteks UNFCCC, mekanisme insentif market dan non market, mengingat pasar global saat ini tidak memberikan insentif positif bagi negara-negara pemilik hutan tropis.(sumber:Pusinfo-2009)