Tampilkan postingan dengan label Hasil Hutan Bukan Kayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasil Hutan Bukan Kayu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2010

KEINDAHAN MEBEL ROTAN

Rotan merupakan komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu atau HHBK yang potensial di Indonesia. Kurang lebih 85% produksi rotan dunia berasal dari Indonesia, sehingga tidak berlebihan apabila kita kampanyekan "The Real Rattan is Indonesia" dan membawa atau mengusulkan rotan sebagai warisan dunia kepada UNESCO. Ironisya kelestarian rotan Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan sangat mungkin bisa segera punah. Nilai ekspor produk keranjang rotan dan sejenisnya turun dari US $ 27,04 juta pada tahun 2007 menjadi US $ 19,22 juta di tahun 2008, sedangkan nilai ekspor kursi dan perabot rumah tangga rotan juga merosot dari US $ 155,16 juta di 2007 menjadi US $ 106,06 juta di tahun 2008. Industri rotan sebanyak 614 unit tahun 2007 menurun menjadi 234 unit usaha pada tahun 2008. Daya serap industri mebel Indonesia sangat terbatas yaitu hanya sekitar 40.000 ton atau kurang dari 10% kapasitas lestari nasional.

Rotan hanya akan lestari bila dunia membutuhkan dan memerlukan mebel dan kerajinan rotan dengan harga yang ekonomis, sehingga rotan memberikan manfaat bagi petani pemungut dan budidaya rotan. Petani hanya akan memungut dan membudidayakan rotan bila industri mebel rotan dalam negeri tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanpa itu semua, potensi rotan Indonesia yang menguasai 85% rotan dunia hanya akan tinggal dongeng saja. Persaingan rotan dengan impor mebel rotan imitasi (yang terbuat dari plastik) dari China juga ikut mengancam industri mebel rotan Indonesia. Harga plastik dari China yang relatif murah dibanding rotan membuat komoditi ini semakin sulit bersaing dipasaran. Dalam upaya meningkatkan penggunaan dan nilai atau harga produk rotan, sebaiknya kantor-kantor instansi pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, hotel, restoran dan rumah tangga menggunakan produk-produk rotan baik mebel maupun furniture.

Kawasan hutan tempat tumbuhnya rotan di Indonesia berada di areal seluas 26,7 juta ha dengan kapasitas produksi lestari sebesar 696.000 ton per tahunnya. Kurang lebih 5 juta orang terlibat dalam industri rotan, dan 2,3 juta diantaranya merupakan petani pemungut rotan. Pusat produksi rotan berada di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, NAD, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, dan NTB. Masih ada daerah lain yang potensi rotannya belum tergarap dengan baik, antara lain Maluku Utara, Maluku Tengah dan Papua.(Sumber: Siaran Pers Pusinfo-Kementerian Kehutanan,30/07/2010)

Rabu, 12 Agustus 2009

R O T A N


Rotan merupakan salah satu sumber keanekaragaman hayati Indonesia.Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia, untuk itu rotan merupakan penghasil devisa yang cukup besar. Rotan-rotan tersebut tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi (90 %) sedangkan 10 % sisanya tersebar di pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya yang memiliki hutan alam.

Dari luas keseluruhan hutan tropis Indonesia (120,35 juta ha), seluas 13,2 juta ha ditumbuhi oleh tanaman rotan. Dan di hutan tersebut terdapat 8 marga rotan dengan 300 jenis, sementara yang baru dimanfaatkan sebanyak 51 jenis. Hal ini masih memberikan peluang yang besar dalam pengelolaan rotan, dan rotan perlu untuk dimanfaatkan secara optimal guna mendukung meningkatkan devisa negara serta peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.


PENGELOLAAN ROTAN

Rotan yang umumnya berbentuk bulat dapat diolah menjadi barang jadi maupun setengah jadi. Pengelolaan dalam industri rotan dilakukan dengan memproses rotan bulat tersebut menjadi bagian-bagian rotan seperti kulit dan hati yang masing-masing bagian tersebut kemudian diolah sesuai tujuan dan pemanfaatannya.


Rotan seel (Daemonorojo melanochaetes Bacc) yang telah dibersihkan digosok dengan serbuk gergaji atau sabut kelapa, kemudian dipotong-potong sesuai standar, dan dijemur hingga kering.

Adapun proses pengelolaan rotan meliputi hal-hal sebagai berikut :


1. Penggorengan

Tujuan dari penggorengan rotan adalah untuk menurunkan kadar air agar mudah dan cepat mengering, dan mencegah terjadinya serangan jamur pada rotan tersebut. Penggorengan tersebut dengan mempergunakan minyak solar yang dicampur dengan minyak kelapa.


2. Penggosokkan

Dilakukan penggosokan pada rotan tidak lain bertujuan untuk menghilangkan getah-getah yang masi9h menempel pada kulit rotan tersebut. Penggoisokan dengan mempergunakan kain perca, sabut kelapa atau karung goni yang dicampur dengan serbuk gergaji. Kemudian rotan dicuci dengan air bersih maka rotan akan terlihat cerah dan mengkilap.


3. Pengeringan

Pengeringan rotan dilakukan dengan cara dijemur di terik matahari, dan penjemuran ini dapat berlangsung lama 22 hari hingga 65 hari. Pengeringan akan menghasilkan rotan lebih baik dan mengkilap.


4. Pengupasan dan Pemolesan

Proses ini dilakukan pada jenis rotan yang besar dan dalam keadaan kering untuk menghasilkan rotan yang memiliki diameter secara merata dan warna pun akan lebih seragam.


5.Pembengkokan dan Pelengkungan

Pembengkokan dan pelengkungan dilakukan pada jenis rotan yang berdiameter besar dan sesuai dengan penggunaannya. Dilakkukan dengan cara melunakkannya dengan uap air panas yang disebut steaming yang mempergunakan tabung silinder, agar jaringan pada rotan menjadi lunak sehingga mudsah untuk dilengkungkan sesuai kebutuhan.


6. Pemutihan

Proses pemutihan bertujuan untuk menghilangkan silica dan mengurangi kromofort (gugus penyebab warna) oksidasi terhadap struktur aromatic dari lignin dan karbohidrat. Pemutihan dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen.


7. Pengasapan

Dalam proses ini dilakukan pada rotan yang telah kering namun masih berkulit (alami), yaitu untuk menghasilkan warna kuning dan mengkilap pada rotan. Ini merupakan proses oksidasi rotan dengan belerang agar warna kulit pada rotan lebih putih, dan dilaksanakan di dalam rumah asap yang berbentuk kubah terbuat dari tembok dan balok kayu.


Rotan memiliki peranan penting dalam membantu masyarakat meningkatkan pendapatan. Dan pada umumnya petani atau pencari rotan dalam setiap harinya mendapat penghasilan sebesar Rp 82.500,-. Sedangkan bagi pengrajin, rotan dapat meningkatkan produk dan peralatan rumah tangga, memberikan peluang pasar yang cukup menguntungkan.

Barang-barang kerajinan dengan bahan baku rotan saat ini banyak diminati, baik dari kalangan masyarakat menengah sampai pada masyarakat kelas atas. Kini produk rotan seperti lampit, meubel, keranjang, souvenir, serta berbagai bentuk kerajinan lainnya banyak menghiasi ruang-ruang mewah perumahan elite. Kiranya hal tersebut sangat membantu para pekerja industri rotan, dalam setiap tahunnya mereka dapat menghasilkan pendapatan rata-rata 3-5 juta rupiah.

Produksi rotan akhir-akhir ini semakin meningkat oleh karena banyaknya permintaan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Indonesia sebagai produsen utama jenis-jenis rotan, kini dapat menjadi pemasok utama bahan baku meubel berbahan dasar rotan ke luar negeri disamping produk kerajinan lainnya. Rotan Indonesia mampu bersaing di pasaran dunia.

Senin, 15 Juni 2009

5 Unggulan Hasil Hutan Bukan Kayu


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Geser Dominasi Kayu Sebagai Komoditi EKSPOR.

Potensi Hutan Tropis Indonesia tidak hanya mampu memberi peluang untuk pengembangan industri kehutanan dengan bahan baku kayu, tetapi berpeluang dalam pengembangan industri hasil hutan berbahan baku non kayu. Dari hutan dapat diperoleh Hasil Hutan Ikutan antara lain berupa damar, rotan, gondorukem, minyak kayu putih, madu, dll. Salah satu hasil hutan bukan kayu yang merupakan komoditi ekspor adalah kemenyan dari Tapanuli Utara, daerah ini tercatat sebagai penghasil kemenyan terbesar di dunia, setiap tahunnya kabupaten ini menghasilkan kemenyan sekitar 4 ribu ton dari lahan sekitar 30 ribu hektar yang ditumbuhi tanaman kemenyan.Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan & Perhutanan Sosial menetapkan 558 jenis hasil Hutan Bukan Kayu, namun terdapat 5 jenis HHBK yang menjadi unggulan, yaitu: Rotan, Gaharu, Sutera, Bambu dan Madu lebah.HHBK tersebut merupakan sumber alternatif yang potensial dalam menghasilkan devisa negara sebagai komoditi ekspor.(undar)

Minggu, 14 Juni 2009

GONDORUKEM


Getah Pinus jika diolah atau dimasak 69 % akan menjadi gondorukem dan 23 % akan menjadi terpentin, sedang sisanya 8 % berupa residu. Di lahan Perhutani pada tahun 2000-an , dari sekitar 300 pohon pinus setiap 14 hari bisa menghasilkan 150 kg getah. Getah pinus sebanyak 150 kg itu jika diolah menjadi gondorukem 103,5 kg dan terpentin sebanyak 34,5 kg.
Gondorukem dalam istilah sehari-hari disebut pine rosin, rosin, colophony, siongka, dsb.Gondorukem merupakan getah yang diambil/disadap dari poohon pinus.Getah tersebut diproses melalui penyulingan air yang kadang-kadang disertai vakum. Residu dari penyulingan disebut GONDORUKEM yang berwarna ambar-bening, sedang fraksi desilatnya adalah terpentin. Berdasarkan warnanya, getah gondorukem diklasifikasikan menjadi beberapa kelas yaitu B,C,D E,F,G,H,I,K,M,N, dan W-G. Kegunaan kelas B,C,D (warna gelap) digunakan untuk industri minyak resin dan vernis gelap. Kelas E,F,G digunakan sebagai bahan penolong dalam industri kertas. Kelas G dan K digunakan untuk industri sabun.

Sementara untuk gondorukem kelas W-G dan W-W (warna pucat) digunakan sebagai bahan vernis warna pucat, scaling wax, bahan peledak, pelapis alat-alat yang dipegang tangan, bahan penggosok senar, bahan solar, bahan cat, tinta cetak, semen, kertas, politur kayu, plastik, kembang api dsb.*sumber:Duta Rimba Edisi 3/Th.1/2006.

Minggu, 31 Mei 2009

PEMANENAN LEBAH HUTAN (Apis dorsata binghami)


Oleh: Rini Purwanti*)

Pendahuluan

Apis dorsata yang biasa disebut lebah hutan sampai saat ini diketahui mempunyai tiga sub spesies yakni Apis dorsata dorsata, Apis dorsata binghami, dan Apis dorsata breviligula. Dari ketiga sub spesies ini hanya dua yang terdapat di Indonesia yakni Apis dorsata dorsata yang terletak di wilayah Indonesia Bagian Barat mulai Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sekitarnya dan Timor Timur serta Apis dorsata binghami yang hanya terdapat di Sulawesi. Jenis lebah ini membuat sarang di tempat terbuka dimana sinar matahari dapat masuk atau setidak-tidaknya masih ada celah terbuka. Satu pohon biasanya dihuni oleh puluhan sarang, kecuali sub spesies yang berada di Sulawesi (Apis dorsata binghami) dan Filipina (Apis dorsata breviligula). Di Timor Timur pernah dilaporkan ada satu pohon yang dihuni oleh 126 sarang Apis dorsata dorsata (Departemen Kehutanan, 1998).

Apis dorsata binghami tidak seperti A. mellifera maupun A. cerana atau A. nigrocincta, yang merupakan jenis lebah madu yang dapat dibudidayakan di dalam kotak-kotak pemeliharaan buatan manusia. Apis dorsata binghami umumnya ditemukan di dalam atau sekitar kawasan hutan atau di kampung-kampung yang berbatasan dengan hutan. Sarangnya menggantung pada bagian bawah cabang pohon besar dengan ketinggian ± 20 meter. Dalam satu pohon biasanya hanya dihuni oleh 1 – 2 sarang lebah, sementara untuk Apis dorsata dorsata, satu pohon bisa dihuni sampai puluhan sarang. Di Sulawesi, sarang lebah hutan umumnya ditemukan pada pohon mangga (Mangifera indica L.), sukun (Artocarpus communis Forst.), durian (Durio zibethinus Murr.), kapuk randu (Ceiba pentandra Gaertn.) dan aren (Arenga pinnata) (Soenarno dkk, 2002).

Pemanenan Madu Lebah Hutan

Di Sulawesi masih banyak ditemukan sarang lebah hutan, tetapi kegiatan pemanenannya selama ini masih bersifat tradisional yaitu melakukan pengasapan atau pembakaran untuk mengusir lebah lalu memotong habis seluruh sarang lebah tanpa menyisakan anakannya. Hal ini bisa mengakibatkan kepunahan dari lebah hutan ini karena anakan lebah yang seharusnya masih bisa berkembang, ikut juga diambil. Pengasapan juga bisa mengakibatkan ratu lebah mati atau ratu tidak dapat berkumpul dengan koloninya sehingga mengakibatkan kepunahan dari koloni tersebut. Cara panen semacam ini juga mengorbankan seluruh anakan lebah, sehingga menghambat proses regenerasi dan perkembangan populasi koloni (Setiawan, 2004). Kegiatan pemanenan biasanya dilakukan oleh masyarakat pada pagi hari (05.30 – 07.00). Hal ini disebabkan karena pada pagi hari lebah pekerja sudah mulai keluar untuk mencari makan dan belum kembali pada jam-jam tersebut sehingga lebih aman untuk melaksanakan kegiatan pemanenan, sedangkan pada jam 8.00 ke atas lebah pekerja sudah mulai pulang dari mencari makan dan biasanya lebih ganas.

Kegiatan pemanenan madu dilakukan dengan bagi hasil antara pemilik pohon inang dengan pawang lebah. Hasil perolehan madu dibagi 2 bagian yang sama. Pemanenan dilakukan dengan memanjat pohon oleh pawang lebah yang umumnya merupakan satu kelompok kecil terdiri sekurang-kurangnya dua orang. Dalam kelompok kecil tersebut terjadi pembagian tugas antara lain pemanjatan, pelayanan dibawah selama pemanjatan dan pengangkutan hasil keluar hutan. Untuk memudahkan pemanjatan pohon, pawang lebah menggunakan tangga. Peralatan yang dipergunakan dalam pemanenan berupa pisau untuk mengiris sarang, ember bertali, dan pengasap (sulo) yang terbuat dari sabut kelapa yang dibalut dengan daun kelapa basah di bagian luarnya untuk menghasilkan asap yang banyak. Agar sang pawang tidak disengat lebah, dia menggunakan celana panjang, baju tebal (jaket), topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak tersengat lebah.

Bagaimana Agar Lebah Kembali Lagi Ke Sarang?

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang pawang lebah, mereka menyatakan bahwa terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh pawang lebah agar lebah yang telah diasapi dan diusir tadi mau kembali lagi ke pohon inangnya dan membangun kembali sarangnya, yaitu :

1. Mengolesi batang tempat sarang lebah dengan gula merah, dengan alasan untuk mengganti madu yang telah diambil tadi karena jika madu telah diambil semua maka tidak ada lagi makanan lebah di atas pohon itu. Oleh sebab itu, dengan mengoleskan gula merah di dahannya tadi diharapkan bisa sedikit menggantikan makanan cadangan lebah.

2. Membaca doa dan melakukan ritual-ritual dengan tujuan agar lebah tidak marah dan menyengat pawang serta mau kembali lagi ke sarangnya semula. Adapun beberapa gerakan dalam ritual yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Pada saat membaca doa, dia menempelkan bagian bawah telapak tangannya dekat ibu jari. Ini maksudnya untuk minta ijin pada pohon dan dengan maksud agar isi yang didapat.
  • Mengelus-elus pohon selama 3 kali dengan gerakan dielus dari bawah ke atas. Dengan maksud agar lebah tidak terbang ke bawah tapi kembali ke atas, dan juga diharapkan ada peningkatan hasilnya.
  • Mendorong pantat ke atas, maksudnya agar lebah tidak dengan gampang mengeluarkan sengatnya terhadap pawang. Kenapa pantat yang dipegang, karena sumber sengatan asalnya dari arah pantat lebah.
  • Menghadap ke arah asal sarang/posisi sarang berada dan tidak boleh membelakanginya karena bisa mengakibatkan lebah marah.
  • Pada hari jum’at tidak boleh melakukan pemungutan madu, kecuali dalam keadaan terpaksa. Kalaupun harus memanen, maka setelah selesai memanen, maka dia akan melakukan ritual lagi yaitu duduk dibawah pohon sambil membaca mantera. Tujuannya yaitu agar lebah tetap kembali lagi ke tempat asalnya.

Berdasarkan cara-cara yang dilakukan oleh pawang lebah di atas, beberapa lebah memang masih ada yang mau kembali ke sarangnya semula untuk membangun sarangnya kembali, tetapi ada juga yang kembali ke pohon inangnya dan membangun lagi sarangnya tetapi tidak dibekas sarang yang telah dipanen tadi, tetapi pindah ke dahan yang lain. Selain itu, sarang yang dibangun kembali juga ukurannya biasanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan sarang semula.

Bagaimana Panen Lebah yang Seharusnya?

Beberapa pemungut madu telah dapat menerapkan teknis pemanenan madu lebah hutan secara benar sehingga kelestarian lebahnya dapat lebih terjamin yang dikenal dengan teknik sunat (Departemen Kehutanan, 2003). Prinsip dari teknik sunat adalah hanya mengambil/mengiris bagian sarang yang berisi madu saja dan meninggalkan sebanyak-banyaknya bagian sarang yang berisi telur, larva, pupa lebah dan tepung sari. Pada bagian sarang yang berisi madu yang telah diambil, segera dibangun kembali oleh lebah hutan. Selain hal tersebut agar kelestarian lebah hutan dapat lebih terjamin maka perlu dihindari terjadinya pembakaran sarang pada saat pengasapan.

Pemanenan Lebah Madu

Penelitian mengenai teknik panen sunat ini sebetulnya sudah pernah diuji cobakan oleh Purwanti dkk (2006) di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. 12 koloni lebah hutan siap panen diuji coba, 4 koloni dipanen tradisional, 4 koloni dipanen sunat dengan batang bekas sarang dibersihkan, dan 4 koloni dipanen sunat dengan batang bekas sarang tidak dibersihkan. Hasilnya 2 dari 4 koloni yang dipanen tradisional masih kembali, sedangkan dengan sistem sunat baik yang dibersihkan batangnya maupun yang tidak ternyata hanya 1 saja yang kembali. Tetapi hal ini belum bisa dijadikan patokan bahwa sistem sunat tidak efektif untuk diterapkan di Sulawesi mengingat penelitian baru sekali dilakukan selain itu juga karena memang ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh pawang saat melakukan pemanenan seperti menggunakan pengasapan dengan api yang menyala serta terlalu banyaknya anakan yang dipotong saat panen sunat. Oleh sebab itu masih perlu dilakukan uji coba lagi dengan mengambil lokasi yang berbeda serta mengeliminir kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pemanenan.

Penutup

Kegiatan pemanenan lebah hutan ini memegang peranan penting karena dari kegiatan pemanenan inilah yang akan menentukan keberlanjutan dari perkembangan jumlah koloni lebah selanjutnya. Dari teknik pemanenan ini bisa menjadi salah satu cara untuk membudidayakan lebah hutan sehingga kontinuitas dan produktifitas madu lebah hutan dapat meningkat. Oleh sebab itu perlu dilakukan teknik pemanenan lebah yang ramah lingkungan dan tidak mengancam populasi koloni. *Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Makassar.

Kamis, 28 Mei 2009

GETAH JELUTUNG

Jelutung merupakan jenis kayu multiguna, selain menghasilkan kayu juga menghasilkan getah. Getah dan kayu jelutung merupakan komoditi perdagangan dalam dan luar negeri/ekspor. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan baku pensil slite dan getahnya sebagai bahan pengawet permen karet, kabel listrik dibawah tanah, kondom dan campuran bahan baku ban mobil. Pohon jelutung dapat menghasilkan getah yang dikelompokkan sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) . Jelutung pada umur 8 tahun atau setelah batang berdiameter paling kecil 20 cm sudah bisa disadap (Lihat Gambar 2). Getah jelutung berwarna putih yang terdiri dari 20 % kancuk dan 80 % damar. Perkiraan produksi getah jelutung berkisar antara 0,1 kg sampai dengan 0,6 kg per batang.

Potensi kayu jelutung semakin langka, volume rata-rata 2,46 m3/ha pada tahun 1987 (Badan Intag, 1987. Menurunnya potensi volume rata-rata jelutung disebabkan antara lain tidak dilakukan usaha budidaya secara intensif, eksploitasi sumber daya hutan yang cenderung berlebihan dan kurang memperhatikan prinsip dalam menjaga kelestarian serta kesinambungan ekosistem sumber daya hutan, kebakaran hutan di musim kemarau, konversi kawasan hutan ke sawit dan karet.

Usaha Budidaya Jelutung

Masalah ekonomi dewasa ini adalah kemampuan supply kayu dari hutan alam semakin berkurang, maka orientasi penyelesaian ekonominya adalah membangun sumber supply baru dari hutan tanaman. Pembangunan hutan tanaman untuk jenis jelutung dapat dilakukan pada hutan tanaman industri atau hutan tanaman rakyat. Usaha budidaya ini belum ada penghasilan seperti getah atau kayu karena tanaman ini baru berumur 3-4 tah un (Gambar 1).

Produksi Getah Jelutung

Daerah penghasil getah jelutung di daerah Kalimantan Tengah adalah Pangkalan Bun, Palangkaraya dan Sampit. Selama empat tahun (2003 s/d 2006) daerah terbesar penghasil getah jelutung adalah Pangkalan Bun (Lihat Grafik di bawah ini). Produksi dari ketiga daerah ini dijual ke pedagang besar /eksportir di Sampit.

Tabel 6. Produksi Getah Jelutung di daerah Propinsi Kalimantan Tengah

Daerah Kab.

Tahun (Kg)

2003

2004

2005

2006

Rata2

Kab. Pangkalan Bun

423.242

493.012

421.770

564.923


Palangka Raya

428.739

454.214

180.530

67.840


Sampit

185.933

115.440

30.081

60.993


Jumlah

1.037.914

1.062.666

632.381

693.756


Sumber: Pedagang besar/Eksportir Getah Jelutung, Sampit 2007.

Ekspor Getah Jelutung

Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia di ekspor ke luar negeri seperti ke Jepang, Singapura dan Hongkong dalam bentuk bongkah. Berdasarkan data dari sebuah perusahaan eksportir getah jelutung di sampit, rata-rata per tahun mampu mengekspor162,29 ton ke Jepang. Nilai rata-rata per tonnya berkisar antara USD 4.592 – 4.966. Pada table 7 di bawah ini menunjukkan jumlah ekspor getah jelutung ke Negara Jepang.

Tabel 7. Realisasi Ekspor Getah Jelutung di Kalimantan Tengah

Tahun

Volume

(ton)

Nilai

(USD)

Nilai Rata-rata/ton (USD)

Harga rata/kg ditingkat buyer LN (USD)

Tujuan Ekspor

2000

96

476.800,00

4.966,70

0,50

Jepang

2001

128

587.840,00

4.592,50

0,50

Jepang

2002

176

792.000,00

4.500,00

0,45

Jepang

2003

192

902.400,00

4.700,00

4,70

Jepang

2004

192

902.400,00

4.700,00

4,70

Jepang

2005

176

827.200,00

4.700,00

4,70

Jepang

2006

176

827.200,00

4.700,00

4,70

Jepang

Jumlah

1136





Rata-rata

162,29





Sumber : Produsen dan Eksportir Getah Jelutung, Sampit, 2007.

Nialai Ekonomi Jelutung

  1. Getah Jelutung

Dari perkiraan produksi getah jelutung 0,1 sampai dengan -0,6 kg per batang tiap satu kali sadap. Dalam satu tahun rata-rata pebnyadapan dilakukan 40 kali, dengan asumsi harga getah Rp. 3000 per kilogram. Jumlah pohon dalam 1 hetar 200 pohon, maka nilai ekonomi getah jelutung setiap tahunnya berkisar antara Rp. 2.400.000,- sampai Rp. 13. 440.000,-.

  1. Kayu Jelutung

Riap diameter pohon jelutung adalah 1,58 cm per tahun, maka pada umur ± 25 tahun pohon jelutung sudah dapat dipanen untuk keperluan bahan baku pensil slate atau kayu lapis dengan diameter 35 cm lebih.

Jika rata-rata pohon bebas cabang mencapai 15 cm meter, maka volume tiap pohon rata-rata 2,94 m3. Dengan kerapatan pohon mencapai 200 pohon/hektar, maka volume rata-rata per hektarnya ± 588 m3. Dengan asumsi harga kayu bulat jelutung di tingkat masyarakat Rp. 200.000,- per meter kubik, maka dapat diperoleh nilai ekonomi dari jenis kayu jelutung Rp. 117.600.000,-

Keuntungan Usaha Budidaya Jelutung

Usaha budidaya jelutung selain dapat dilakukan dalam kawasan hutan tanaman industri/HTI juga dapat dilaksanakan di hutan rakyat. Dalam analisis usaha budidaya jelutung pada hutan rakyat, luas tanah yang dipergunakan 1 hektar. Biaya tanah dihitung dalam bentuk nilai sewa tanah.

Pendapatan

Jelutung pada umur 8 tahun dapat disadap. Hasil sadapan rata-rata per pohon pada umur 8 tahun s/d 12 tahun 3 kilogram per bulan per pohon. Pada umur 13 tahun s/d 30 tahun menghasilkan getah 5 kilogram per pohon per bulan. Selanjutnya produksi getah akan menurun, seiring dengan penambahan umur pohon. Pada umur 35 tahun setelah berdiameter 40 cm, tinggi pohon 15 meter, jelutung sebaiknya ditebang untuk diremajakan kembali. Setiap batang akan menghasilkan kayu 1,88 m3. Usaha budidaya jelutung selain dapat dilakukan dalam kawasan hutan tanaman industri/HTI juga dapat dilaksanakan di hutan rakyat.*Sumber:MKI-2008.