Selasa, 16 Juni 2009

Rahasia Pohon Besar


Satu hektar lahan yang dipenuhi pohon besar :
Menghasilkan 0,6 Ton O2/hr, untuk 1500 org/hr
Menyerap 2,5 Ton CO2/th
Menyimpan 900 m3 air tanah/tahun
Mentransfer air 4000 liter/hari
Meredam kebisingan 25 – 80 %
Meredam angin 75 – 80 %
Menyerap gas emisi mobil (emisi 1 mobil dpt diserap oleh 4 pohon dewasa)

Senin, 15 Juni 2009

5 Unggulan Hasil Hutan Bukan Kayu


Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Geser Dominasi Kayu Sebagai Komoditi EKSPOR.

Potensi Hutan Tropis Indonesia tidak hanya mampu memberi peluang untuk pengembangan industri kehutanan dengan bahan baku kayu, tetapi berpeluang dalam pengembangan industri hasil hutan berbahan baku non kayu. Dari hutan dapat diperoleh Hasil Hutan Ikutan antara lain berupa damar, rotan, gondorukem, minyak kayu putih, madu, dll. Salah satu hasil hutan bukan kayu yang merupakan komoditi ekspor adalah kemenyan dari Tapanuli Utara, daerah ini tercatat sebagai penghasil kemenyan terbesar di dunia, setiap tahunnya kabupaten ini menghasilkan kemenyan sekitar 4 ribu ton dari lahan sekitar 30 ribu hektar yang ditumbuhi tanaman kemenyan.Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan & Perhutanan Sosial menetapkan 558 jenis hasil Hutan Bukan Kayu, namun terdapat 5 jenis HHBK yang menjadi unggulan, yaitu: Rotan, Gaharu, Sutera, Bambu dan Madu lebah.HHBK tersebut merupakan sumber alternatif yang potensial dalam menghasilkan devisa negara sebagai komoditi ekspor.(undar)

Minggu, 14 Juni 2009

GONDORUKEM


Getah Pinus jika diolah atau dimasak 69 % akan menjadi gondorukem dan 23 % akan menjadi terpentin, sedang sisanya 8 % berupa residu. Di lahan Perhutani pada tahun 2000-an , dari sekitar 300 pohon pinus setiap 14 hari bisa menghasilkan 150 kg getah. Getah pinus sebanyak 150 kg itu jika diolah menjadi gondorukem 103,5 kg dan terpentin sebanyak 34,5 kg.
Gondorukem dalam istilah sehari-hari disebut pine rosin, rosin, colophony, siongka, dsb.Gondorukem merupakan getah yang diambil/disadap dari poohon pinus.Getah tersebut diproses melalui penyulingan air yang kadang-kadang disertai vakum. Residu dari penyulingan disebut GONDORUKEM yang berwarna ambar-bening, sedang fraksi desilatnya adalah terpentin. Berdasarkan warnanya, getah gondorukem diklasifikasikan menjadi beberapa kelas yaitu B,C,D E,F,G,H,I,K,M,N, dan W-G. Kegunaan kelas B,C,D (warna gelap) digunakan untuk industri minyak resin dan vernis gelap. Kelas E,F,G digunakan sebagai bahan penolong dalam industri kertas. Kelas G dan K digunakan untuk industri sabun.

Sementara untuk gondorukem kelas W-G dan W-W (warna pucat) digunakan sebagai bahan vernis warna pucat, scaling wax, bahan peledak, pelapis alat-alat yang dipegang tangan, bahan penggosok senar, bahan solar, bahan cat, tinta cetak, semen, kertas, politur kayu, plastik, kembang api dsb.*sumber:Duta Rimba Edisi 3/Th.1/2006.

Selasa, 09 Juni 2009

Pohon Suren (Toona sureni)

Oleh: Dharmawati F. Djam’an
*Balai Litbang Teknologi Perbenihan

Informasi Umum
Suren ( Toona sureni ) dikenal dengan berbagai nama sesuai dengan daerah tempat tumbuh, seperti surian (Sumatra); surian wangi ( Malaysia ); danupra ( Philippina); ye tama (Myanmar); surian ( Thailand) dan nama perdagangannya yaitu limpaga. Kayunya berbau harum sehingga tahan terhadap serangan rayap maupun bubuk kayu dengan warna kemerahan.
Tanaman ini tumbuh pada daerah bertebing dengan ketinggian 600 – 2.700 m dpl dengan temperature 22ºC. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan selain kayunya sebagai bahan bangunan, furniture, veneer, panel kayu dan juga kulit dan akarnya dimanfaatkan untuk bahan baku obat diarrhoea dan ekstrak daunnya dipakai sebagai antibiotic dan bio-insektisida; sedangkan kulit batang dan buahnya dapat disuling untuk menghasilkan minyak esensial (aromatik). Tajuk tidak terlalu lebar sehingga pohon suren biasa digunakan sebagai tanaman pelindung atau pembatas di ladang dan sebagai winbreak di perkebunan teh.

Deskripsi Pohon
Pohon suren ini memiliki karakter khusus seperti harum yang khas apabila bagian daun atau buah diremas dan pada saat batang dilukai atau ditebang. Ada ciri lain yang dapat membedakan secara sekilas, yaitu :
1. Batang Bentuk batang lurus dengan bebas cabang mencapai 25 m dan tinggi pohon dapat mencapai 40 sampai 60 m. Kulit batang kasar dan pecah-pecah seperti kulit buaya berwarna coklat. Batang berbanir mencapai 2 m.
2. Daun Daun suren berbentuk oval dengan panjang 10-15 cm, duduk menyirip tunggal dengan 8 – 30 pasang daun.m pada pohon berdiameter 1-2 m.
3. Bunga Kedudukan bunga adalah terminal dimana keluar dari ujung batang pohon. Susunan bunga membentuk malai sampai 1 meter. Musim bunga 2 kali dalam setahun yaitu bulan Februari-Maret dan September-Oktober.
4. Buah : musim buah 2 kali dalam setahun yaitu bulan Desember-Februari dan April-September, dihasilkan dalam bentuk rangkaian (malai) seperti rangkaian bunganya dengan jumlah lebih dari 100 buah pada setiap malai. Buah berbentuk oval, terbagi menjadi 5 ruang secara vertikal, setiap ruang berisi 6 – 9 benih. Buah masak ditandai dengan warna kulit buah berubah dari hijau menjadi coklat tua kusam dan kasar, apabila pecah akan terlihat seperti bintang. Ciri lain dari buah masak yaitu, pohon seperti meranggas/tidak berdaun.
Benih : Warna benih coklat , panjang benih 3-6 mm dan 2-4 mm lebarnya dan pipih, bersayap pada satu sisi sehingga benihnya akan terbang terbawa angin. Dalam 1 kg terdapat 64.000 benih.
Ekstraksi : Buah disimpan diatas tampah kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hari dari jam 9-12 siang, kemudian dirontokkan dengan cara memukul-mukul tangkai buah di atas tampah atau dalam karung agar benih tidak terbang. Untuk seleksi yaitu dapat dengan cara menampi agar benih dan kotoran terpisah.

5. K a y u Gubal kayu suren berwarna kemerahan, tekstur kayu kasar mempunyai struktur liang bergelang dengan ira yang bersimpul atau beralun. Kayu suren termasuk kelas awet sehingga termasuk ke dalam kelas kayu ringan.

Persemaian
5.Viabilitas benih Benih suren mempunyai kadar air awal sekitar 11% sehingga viabilitasnya akan turun setelah 2 – 3 bulan. Apabila disimpan dalam ruang AC (18º-20ºC) dapat bertahan sampai 5 bulan dengan daya kecambah 56%.

6. Perkecambahan / Persemaian

Secara umum, benih suren dapat dikecambahkan dengan menabur benih dalam bedengan maupun polibag ( Gambar 1 A ) . tetapi untuk praktisnya dapat dilakukan dengan cara menggantung rangkaian buah di atas bedengan dan buah akan merekah dengan sendirinya dan benih tidak akan terbang jauh, setelah itu disapih ke dalam polibag. Sedangkan cara lain yaitu dengan menabur benih di dalam bak kecambah ( Gambar 1 B ). Media kecambah digunakan campuran tanah+pasir (1:1) dan setelah benih ditabur ditutup dengan media yang sama. Setelah berumur 2 – 3 minggu (berdaun 2) semai dapat dipindahkan ke polibag ukuran 10 x 12 cm.

7. Pembibitan
Media yang digunakan campuran tanah+pasir+kompos (7:2:1) dan setiap 1 m³ media ditambahkan pupuk TSP 1 sendok makan (5gr), kemudian masukkan ke dalam polibag ukuran 10x12 cm. Semai disimpan di bawah naungan (shadingnet) dengan intensitas cahaya 90%. Setelah berumur 3 bulan dipersemaian dapat dipindahkan ke lapangan.

8. Penanaman
Untuk di daerah Cianjur ( Desa Cugenang ) dekat Perkebunan teh Gedeh, masyarakat biasa menanam disekeliling kebun atau sawah sebagai pembatas blok atau tersebar ditengah-tengah kebun. Sedangkan di perkebunannya sendiri tersebar di antara tanaman teh dan di pinggir jalan sepanjang perkebunan.